Minggu, 16 Februari 2014

Pacaran yang Kristiani

Tips Pacaran Bagi Orang Kristen

1.. Belajarlah untuk mengutamakan Tuhan dalam hidup Anda! Persiapkan diri Anda untuk sebuah pernikahan Kristen! Bacalah Alkitab Anda, berjemaatlah di gereja dimana Anda bertumbuh. Pelajarilah hikmat Tuhan untuk pernikahan, suami-suami dan istri-istri. Alkitab telah memberikan kita satu perintah yang sangat penting untuk bidang ini, yaitu “menjadi pasangan yang seimbang (2 Korintus 6 :14). Pelajarilah ayat ini dan cobalah untuk dapat mengerti arti sebenarnya!

2.. Kenali diri Anda! Ambillah waktu untuk membuat perubahan apapun yang Anda butuhkan untuk dapat menjadi pasangan yang baik bagi seseorang. Anda TIDAK dapat menjadi bahagia dalam pernikahan MANAPUN tanpa bahagia terlebih dahulu dengan diri Anda sendiri!

3.. Mengetahui apa yang Anda butuhkan! Anda harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan Anda, dengan demikian Anda dapat mengkomunikasikannya dengan pasangan Anda di masa depan. Ini adalah hal
yang tidak dapat Anda kompromikan! Tanyakan juga kepada pasangan Anda apa yang dia butuhkan. Kemudian carilah tahu apakah Anda berdua dapat saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Kami bahkan tidak dapat cukup meyakinkan Anda bahwa hal ini sangatlah penting!

4.. Belajarlah untuk peka terhadap tanda-tanda peringatan yang Anda rasakan ketika Anda sedang pacaran dengan seseorang! Menyadari bahwa seseorang yang sedang menjalin hubungan dengan Anda bukanlah “seseorang yang special” adalah separuh dari perjuangan Anda. Anda bisa saja berusaha agar hubungan itu dapat berjalan dengan baik seumur hidup Anda, yang kemudian pada akhirnya, tidak akan pernah berhasil! Semua orang mempunyai kualitas yang baik dan buruk. Hanya karena Anda tidak cocok
dengan seseorang, bukan berarti bahwa orang itu tidak akan menjadi pasangan yang baik bagi orang lain! Apabila memang tidak “cocok”, hormati diri Anda dan pasangan Anda dengan mengakhiri hubungan Anda. Anda berdua layak untuk memiliki hidup yang berbahagia.

5.. Jangan hidup dalam ketakutan dengan kemungkinan bahwa Anda akan tetep sendiri seumur hidup Anda. Ketakutan akan menumbuhkan kegilaan ketika Anda sedang menjalin hubungan! Kebutuhan Anda menjadi tidak berarti sama sekali bagi diri Anda! Anda bahkan dapat membuat keputusan-keputusan bodoh ketika ketakutan ini mengambil alih diri Anda. Isilah kehidupan Anda dengan hal-hal yang dapat membuat Anda merasa gembira. Serahkan semuanya kepada Tuhan dan TINGGALKAN itu di sana!

6.. Minum-minum yang berlebihan (alkoholik, pesta minuman keras di akhir pekan, dll), orang yang bertindak dengan kekerasan dan sejenisnya, adalah orang-orang yang “TIDAK MAMPU” untuk sebuah hubungan dengan komitmen. Orang-orang ini membutuhkan pertolongan dan “penyakit-penyakit” mereka membuat mereka untuk saat itu, tidak mampu membangun suatu hubungan yang
sehat. Tentu saja Allah tidak berkenan bahwa ada sesuatu yang kita ‘sembah’ selain Dia. Allah harus selalu menjadi yang pertama. “Hubungan” sejenis ini terbukti hanya akan terus menyakiti Anda berulang-ulang kali. Doronglah mereka selalu, sesering mungkin, untuk mencari pertolongan yang mereka butuhkan, sehingga satu hari nanti mereka akan dapat mengalami hidup yang telah Allah rencanakan bagi mereka.

7.. Carilah seorang konselor Kristen dengan reputasi yang baik, bila memungkinkan, untuk membantu Anda dalam membuat keputusan yang benar. Pernikahan adalah KOMITMEN untuk SEUMUR HIDUP. Anda bertanggung jawab terhadap diri Anda sendiri untuk membuat keputusan terbaik yang bisa
Anda buat. Menemukan pasangan yang tepat dan membuat komitmen untuk seumur hidup dengan orang tersebut adalah sebuah anugerah yang luar biasa dari Tuhan.

Dikutip dari pelayan Tuhan


Arti Menjadi Katolik

Proses Memaknai dan Menghayati Identitas Diri dan Hubunganku dengan Tuhan.
Adakah di antara kita yang pernah atau sering bertanya pada diri sendiri “Kenapa aku memeluk agama Katolik?”

Barangkali ada yang menjawabnya dengan alasan “karena orang tua Katolik dan sudah dibaptis Katolik sejak bayi”, “karena dari kecil sekolah di sekolah Katolik”, atau “karena pacar atau calon pasangan hidup Katolik jadinya ikut masuk Katolik”. Rasanya setiap orang akan memiliki pilihan jawabannya masing-masing mengenai ini.

Sebuah pepatah bijak  berkata, “alasan kita memilih suatu hal dengan alasan kita untuk tetap bertahan pada hal tersebut adalah dua hal yang berbeda”.



Jika jawaban di atas tadi bisa membuat kita yakin untuk memeluk agama Katolik, apakah alasan yang sama bisa kita gunakan untuk tetap bertahan dalam agama atau komunitas ini? Bertahan dengan segala kondisi yang ada, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam komunitas ini. Terutama bagaimana bertahan di dalam komunitas ini membantu diri kita untuk berjuang dalam pergumulan hidup sehari-hari sebagai pribadi, anggota keluarga maupun dalam lingkungan masyarakat.
Pertanyaan ini tampaknya perlu dimaknai sebagai suatu pertanyaan penuntun, reflektif sekaligus mendasar dan esensial.

Kesadaran akan adanya pertanyaan ini dan perlunya usaha untuk dapat menjawab pertanyaan ini membuat kita menjalani hidup dengan kesadaran pula. Segala yang kita lakukan pun menjadi bermakna sekaligus sebagai usaha untuk “menjawab” pertanyaan ini seiring dengan pengalaman hidupa yang kita alami.

Sebab pada akhirnya yang akan menyelamatkan kita sampai pada ke kehidupan kekal bukanlah pengetahuan kita tentang Tuhan dan agama. Bukan pula dari banyaknya kegiatan keagamaan atau gereja yang pernah kita ikuti selama hidup. Bukan dari pencapaian jabatan di kegiatan gereja, bukan pula dari seberapa banyak orang yang mengenal kita aktif dalam kegiatan gereja.
Terutama dan paling mendasar adalah bagaimana kita sendiri berelasi dan memaknai relasi kita dengan Tuhan, Sang Pencipta kita. Ada unsur personal di dalam hal ini. Unsur personal yang senantiasa perlu disadari, ditumbuhkan dan dihidupi dalam keseharian hidup. Tak hanya ketika sedang beraktivitas di gereja semata. Tuhan mengenal kita sebagai diri pribadi yang utuh, bukan hanya Toni sebagai OMK St. Anna, Mira sebagai anggota koor lingkungan. Yang dikenal-Nya adalah Toni, Mira dan kita masing-masing sebagai pribadi dengan seluruh aspek kehidupan kita.

Kahlil Gibran, seorang penyair ternama kelahiran Libanon pernah berkata “Hubunganmu dengan Sang Pencipta adalah hubungan paling intim, yang bahkan takkan mampu kau bagi dengan kekasih jiwamu sekalipun”.

Yesus sendiri dalam berbagai perumpamaan, pengajaran dan kisah-Nya acapkali menunjukkan betapa sentuhan-Nya pada pribadi-pribadi yang berjumpa dengannya merupakan sentuhan yang personal.  Membuat orang percaya melalui sentuhan-Nya di dalam pengalaman dan pergumulan pribadi mereka.
Bagaimana dengan kita yang mengaku pengikut-Nya?
Sudahkah kita sungguh-sungguh membangun relasi yang personal dengan-Nya? Bukan hanya merasa cukup dan menyandarkan pertumbuhan iman dengan mengikuti kegiatan doa dan gereja di lingkungan maupun paroki.

Sudahkah kita dengan sadar menjalani dan memaknai keseharian hidup kita sebagai pengikut-Nya? Bukan hanya merasa jadi “Katolik” seminggu sekali saat pergi ke gereja dan mengikuti kegiatan gereja. Tapi di keseharian hidup lainnya tidak jelas berpijak pada nilai hidup apa.
Sudahkah kita mencoba mengenal-Nya melampaui yang tertulis di Kitab Suci, melampaui dogma gereja?
Sudahkah kita mencoba mengenal-Nya secara  personal? Sehingga Ia sungguh hidup (alive) di dalam diri maupun keseluruhan aspek-aspek kehidupan kita.

“Imanmu yang menyelamatkan engkau” (Lukas 17:19), demikian Yesus berkata kepada orang Kusta yang disembuhkan-Nya.

Apakah kualitas iman kita sudah cukup untuk membuat kita diselamatkan oleh-Nya dan mengalami kebangkitan?

disadur dari

Anastasia Satriyo