Proses Memaknai dan Menghayati Identitas Diri dan Hubunganku dengan Tuhan.
Adakah di antara kita yang pernah atau sering bertanya pada diri sendiri “Kenapa aku memeluk agama Katolik?”
Barangkali ada yang menjawabnya dengan alasan “karena orang tua Katolik dan sudah dibaptis Katolik sejak bayi”, “karena dari kecil sekolah di sekolah Katolik”, atau “karena pacar atau calon pasangan hidup Katolik jadinya ikut masuk Katolik”. Rasanya setiap orang akan memiliki pilihan jawabannya masing-masing mengenai ini.
Sebuah pepatah bijak berkata, “alasan kita memilih suatu hal dengan alasan kita untuk tetap bertahan pada hal tersebut adalah dua hal yang berbeda”.
Jika jawaban di atas tadi bisa membuat kita yakin untuk memeluk agama Katolik, apakah alasan yang sama bisa kita gunakan untuk tetap bertahan dalam agama atau komunitas ini? Bertahan dengan segala kondisi yang ada, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam komunitas ini. Terutama bagaimana bertahan di dalam komunitas ini membantu diri kita untuk berjuang dalam pergumulan hidup sehari-hari sebagai pribadi, anggota keluarga maupun dalam lingkungan masyarakat.
Pertanyaan ini tampaknya perlu dimaknai sebagai suatu pertanyaan penuntun, reflektif sekaligus mendasar dan esensial.
Kesadaran akan adanya pertanyaan ini dan perlunya usaha untuk dapat menjawab pertanyaan ini membuat kita menjalani hidup dengan kesadaran pula. Segala yang kita lakukan pun menjadi bermakna sekaligus sebagai usaha untuk “menjawab” pertanyaan ini seiring dengan pengalaman hidupa yang kita alami.
Sebab pada akhirnya yang akan menyelamatkan kita sampai pada ke kehidupan kekal bukanlah pengetahuan kita tentang Tuhan dan agama. Bukan pula dari banyaknya kegiatan keagamaan atau gereja yang pernah kita ikuti selama hidup. Bukan dari pencapaian jabatan di kegiatan gereja, bukan pula dari seberapa banyak orang yang mengenal kita aktif dalam kegiatan gereja.
Terutama dan paling mendasar adalah bagaimana kita sendiri berelasi dan memaknai relasi kita dengan Tuhan, Sang Pencipta kita. Ada unsur personal di dalam hal ini. Unsur personal yang senantiasa perlu disadari, ditumbuhkan dan dihidupi dalam keseharian hidup. Tak hanya ketika sedang beraktivitas di gereja semata. Tuhan mengenal kita sebagai diri pribadi yang utuh, bukan hanya Toni sebagai OMK St. Anna, Mira sebagai anggota koor lingkungan. Yang dikenal-Nya adalah Toni, Mira dan kita masing-masing sebagai pribadi dengan seluruh aspek kehidupan kita.
Kahlil Gibran, seorang penyair ternama kelahiran Libanon pernah berkata “Hubunganmu dengan Sang Pencipta adalah hubungan paling intim, yang bahkan takkan mampu kau bagi dengan kekasih jiwamu sekalipun”.
Yesus sendiri dalam berbagai perumpamaan, pengajaran dan kisah-Nya acapkali menunjukkan betapa sentuhan-Nya pada pribadi-pribadi yang berjumpa dengannya merupakan sentuhan yang personal. Membuat orang percaya melalui sentuhan-Nya di dalam pengalaman dan pergumulan pribadi mereka.
Bagaimana dengan kita yang mengaku pengikut-Nya?
Sudahkah kita sungguh-sungguh membangun relasi yang personal dengan-Nya? Bukan hanya merasa cukup dan menyandarkan pertumbuhan iman dengan mengikuti kegiatan doa dan gereja di lingkungan maupun paroki.
Sudahkah kita dengan sadar menjalani dan memaknai keseharian hidup kita sebagai pengikut-Nya? Bukan hanya merasa jadi “Katolik” seminggu sekali saat pergi ke gereja dan mengikuti kegiatan gereja. Tapi di keseharian hidup lainnya tidak jelas berpijak pada nilai hidup apa.
Sudahkah kita mencoba mengenal-Nya melampaui yang tertulis di Kitab Suci, melampaui dogma gereja?
Sudahkah kita mencoba mengenal-Nya secara personal? Sehingga Ia sungguh hidup (alive) di dalam diri maupun keseluruhan aspek-aspek kehidupan kita.
“Imanmu yang menyelamatkan engkau” (Lukas 17:19), demikian Yesus berkata kepada orang Kusta yang disembuhkan-Nya.
Apakah kualitas iman kita sudah cukup untuk membuat kita diselamatkan oleh-Nya dan mengalami kebangkitan?
disadur dari
Anastasia Satriyo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar